That's what i called destiny.
Ketika tidak pernah ada lagi pikiran itu terbesit dan pagi mengantarkan pesan dari Tuhan untuk menjawab perkataanku sebelumnya.
Benar memang, perkataan itu adalah doa. Dan Tuhan mendengarkan. Pasti sudah merencanakan takdirku.
Pagi itu, ada sepasang mata teduh itu bertemu sepasang mataku, disana, ditempat yang ditakdirkan Tuhan untuk kita bertemu setelah semuanya berbeda.
Entahlah, hanya saja aku tidak ingin mempertanyakan. Yang aku tau, itu semua sudah digariskan.
No comments:
Post a Comment